SEJARAH PSIKOLOGI KOMUNIKASI
“Masa lalu adalah sejarah, masa depan adalah misteri dan hari ini adalah hadiah, terimalah dan syukurilah”. (Nanang qosim yusuf, the 7 awarenes sgramedia widiasarana Indonesia, 2006)
Proses perkembangan psikologi komunikasi tidak terlepas dari disiplin ilmu lain, seperti psikologi, filsafat, sosiologi dan antropologi. Sejak zaman klasik pemikiran tentang jiwa manusia telah dimulai Sokrates (470-399 SM) melandaskan pemikirannya dengan mencari “pengertian”, suatu “bentuk yang tetap dari pada sesuatunya”. Sokrates mencoba mencari “pengertian” dari sesuatu dengan Tanya jawab diskusi yang mendalam dan meningkat. (Muhammad Hatta, Alam Pikiran Yunani, Jakarta :Timtanas 1986, hlm.81). Plato ( 427-347 SM). Mengembangkannya dengan gagasan tentang “idea”, yang menilai sesuatu lebih mendalam tentang hal dari penampakan lahiriyah, antara lain dengan pengetahuan, kecerdasan berfikir dan pencarian kebenaran. Pada masa ini, para filsuf mulai membuka adanya sesuatu yang lebih, berperan dalam diri manusia selain kemampuan lahiriah, sesuatu tentang jiwa.
Pemikiran klasik kemudian dicerahkan kembali ide-idenya pada masa Rennaisance. Tokoh utama masa ini, Rene Descrates (1596-1650), membuat suatu ungkapan yang legendaris “cogito ergo sum” (saya berfikir, maka saya ada ), sekaligus menyatakan bahwa kekuatan terbesar manusia bukan pada aspek inderawi, tetapi pada “pikiran (rasio). ( G. Nuchelmas, “Filsafat Pengetahuan (Kennisleer)”, dalam Soejono Soemargono, Berfikir secara kefilsafatan.,Yogyakarta Nur Cahaya,1987. Pada masa ini rasionalisme berkembang pesat dan melahirkan berbagai macam ilmu pengetahuan, termasuk psikologi sebagai ilmu yang mempelajari kesadaran”.
Pada awalnya, psikologi banyak dikaji oleh ahli-ahli ilmu faal. Mereka melakukan eksperimen-eksperimen dan mengemukakan teori-teori yang berkisar tentang syaraf-syaraf pada otak manusia : sensoris dan motoris. Tokoh-tokoh dari ilmu faal ini antara lain adalah C.Bell (1774-1842), F.Magendie (1785-1855), J.P. Muller ( 1801-1858), I.P. Pavlov (1849-1936) dan sebagainya.
Titik awal kemapanan psikologi sebagai ilmu dapat disebut sejalan dengan berdirinya laboratorium psikologi yang pertama di Leipzig pada tahun 1879 yang didirikan oleh Wilhelm Wundt. Diperkenalkanya metode instrokspeksi dalam eksperimen-eksperimennya. Wundt menyatakan bahwa jiwa manusia terdiri atas elemen-elemen, terstruktur secara rapi dalam diri manusia membentuk kejiwaan yang utuh. Ia ahirnya dikenal sebagai penganut elementisme, strukturalisme dan asosiatisme.
Pasca Wundt, para sarjana mulai menyelidiki gejala-gejala kejiwaan yang lebih sistematis dan objektif. Metode-metode baru dikemukakan untuk mengadakan pembuktian-pembuktian nyata sehingga psikologi makin beranjak sebagai ilmu yang mapan. Psikologi mulai bercabang-cabang ke dalam aliran-aliran seiring dengan keragaman berfikir para ahlinya, seperti behaviorisme , fungsionalisme dan psikoanalisis.
Aliran behaviorisme berpegang pada keyakinan hanya tingkah laku yang nyata sebagai objek studinya dan menafikkan tingkah laku yang tidak tampak dari luar. Aliran ini dipengaruhi oleh ahli faal dari Rusia, I.P. Pavlov (1849-1936), dengan teori refleknya. Tokoh lain adalah William McDogall (1871-1938) yang mengembangkan teori Purposive Psychology (psikologi bertujuan).
Aliran fungsionalisme lebih pragmatis, dengan mengutamakan mempelajari fungsi-fungsi jiwa daripada mempelajari strukturnya. Aliran ini berkembang di Amerika Serikat, dengan tokohnya W. James (1842-1910) dan J.M. Cattel (1866-1944). Cattel mengembangkan teknik evaluasi psikologi, yang sekarang dikenal dengan Psychotest.
Di Jerman, para dokter ahli penyakit jiwa mulai mengkaji penyakit Syaraf (psikoneurosis) dan mencari teknik penyembuhan (terapi) yang tepat. Teknik ini meyakinkan para dokter bahwa dibalik kesadaran manusia, terdapat kualitas kejiwaan yang lain yang disebut ketidaksadaran dan justru dalam alam ketidaksadaran itulah terletak berbagai konflik kejiwaan yang menyebabkan penyakit-penyakit kejiwaan. Sigmund Freud (1858-1939) adalah orang pertama yang secara sistematis menguraikan kualitas-kualitas kejiwaan itu beserta dinamika untuk menerangkan kepribadian orang dan untuk diterapkan dalam teknik psikoterapi dan aliran atau teorinya disebut sebagai psikoanalisis.
PENGERTIAN, METODE DAN RUANG LINGKUP
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
“Bicara tanpa hikmah itu kosong, diam tanpa berfikir itu bodoh, dan pandangan tak berguna itu sia-sia, maka jadilah orang bisa merasa dan jangan menjadi orang yang merasa bisa”.
2.1 Pengertian Psikolog Komunikasi
Psikologi komunikasi mempelajari proses psikologi komunikasi yang ada dalam individu, bukan interaksinya. Psikologi di diartikan sebagai ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan dan mengendalikan peristiwa mental dan behavioral dalam komunikasi. Kondisi psikologis para pelaku komunikasi ditelaah disini, dan dapat dipetakan apakah komunikasi tersebut sesuai antara yang dilontarkan dengan yang diterima, atau justru terjadi salah persepsi.
Dalam psikologi, komunikasi dapat dipahami sebagai proses terjadinya kontak antar beberapa elemem yang menghasilkan suatu rangsangan (stimulus). Stimuli mempunyai makna yang luas yang meliputi segala penyampaian energi, gelombang suara, tanda diantara tempat, sistem atau organisme. Kata komunikasi digunakan sebagai proses, pesan, pengaruh, atau secara khusus sebagai pesan penyampaian energi dari alat-alat indera ke otak, pada peristiwa penerimaan dan pengelolaan informasi, atau pada proses saling pengaruh diantara berbagai sistem. Psikologi mencoba menganalisis seluruh komponen yang terlibat dalam proses komunikasi pada diri komunikan serta faktor-faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhi perilaku komunikasinya.
2.2. Metode Psikologi Komunikasi
Psikologi komunikasi merupakan suatu ilmu pengetahuan , dengan sendirinya psikologi komunikasi juga mempunyai sifat-sifat yang dimiliki oleh ilmu pengetahuan pada umumnya. Karena itu psikologi komunikasi mempunyai :
- Obyek tertentu
- Metode penyelidikan tertentu
- Sistematik yang teratur sebagai hasil pendekatan terhadap obyeknya ( Bimo Walgito 1983)
Obyek tertentu merupakan syarat mutlak dalam suatu ilmu, karena obyek inilah yang akan menentukan langkah-langkah lebih lanjut dalam pengupasan lapangan ilmu pengetahuan itu. Tanpa adanya obyek tertentu dapat dipastikan tidak ada pembahasan suatu ilmu pengetahuan. Lalu apa obyek psikologi komunikasi itu ? obyek psikologi komunikasi ialah perilaku dan proses mental manusia atau hewan.
2.3. Ruang Lingkup Psikologi Komunikasi
Lingkup psikologi komunikasi adalah proses penyerapan pesan pada si penerima, sehingga menimbulkan respon pada bentuk penerima pesan itu. Pesan dianggap sebagai stimulus (rangsangan), yang ditangkap oleh indra dan diterjemahkan ke otak untuk diproses. Stimulus ini bisa berupa banyak hal, energi, suara, gambar, isyarat, mungkin juga telepati.
Ada beberapa unsur yang dipetakan dalam proses terjadinya stimulus suatu penyampaian pesan.
- Komunikan
Komunikan merupakan penerima pesan. Psikologi komunikasi menelaah karakteristik-karakteristik komunikan, faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi perilaku komunikasinya.
- Komunikator
Komunikator adalah sebutan untuk pemberi pesan. Psikologi komunikasi melacak sifat-sifat komunikator, mencari apa yang menyebabkan suatu sumber komunikasi berhasil dalam mempengaruhi orang lain dan mengapa suatu sumber komunikasi yang lain tidak.
- Pesan
Pesan adalah materi yang disampaikan dalam proses komunikasi. Dalam pesan di bahas hal-hal yang berkaitan dengan komunikasi diantara individu: bagaimana pesan dari seorang individu menjadi stimulus yang menimbulkan respon dari individu yang lain. Psikologi juga meneliti lambang-lambang yang disampaikan. Psikologi meneliti proses mengungkapkan pikiran menjadi lambang, bentuk-bentuk lambang, dan pengaruh lambang terhadap perilaku manusia. Penelitian ini akhirnya melahirkan ilmu campuran antara psikologi dan linguistik yaitu psikolinguistik.
Pada saat pesan sampai pada diri komunikator, psikologi melihat kedalam proses penerimaan pesan, menganalisis faktor-faktor personal dan situsional yang mempengaruhinya, dan menjelaskan berbagai corak komunikasi ketika sendirian atau dalam kelompok. Dalam hal ini, psikologi komunikasi mempelajari alur-alur psikologi seseorang dan proses jiwa orang itu, bukan produknya.
2.4. Komunikasi Efektif sebagai Tujuan Psikologi Komunikasi
Secara umum komunikasi dinilai secara efektif apabila rangsangan yang disampaikan oleh pengirim (source=S) berkaitan erat dengan rangsangan yang ditangkap dan dipahami oleh penerima (recipient=R).
R (makna yang ditangkap penerima)
——————————————– = 1
S (makna yang dimaksud pengirim)
Efektivitas komunikasi antar komunikator dengan komunikan, seperti diungkapkan oleh Wilbur Schram, sangat dipengaruhi oleh bingkai rujukan (field of reference) dan bingkai pengalaman (field of experience) dari sang komunikator. Bingkai rujukan adalah cakupan dari materi mendasari pesan yang disampaikan, seperti pengetahuan, wawasan dan tingkat pendidikan komunikator. Sedangkan bingkai pengalaman meliputi metode dan teknik penyampaian pesan, yang didapat dari totalitas pengalaman yang diperoleh.
Komunikasi yang efektif dapat ditandai dengan beberapa ciri, seperti diungkapkan oleh Stewart L. Tubbs Sylvia Moss, yaitu:
- Pengertian
Isi stimulus harus diterima secara cermat oleh komunikan seperti yang dimaksud komunikator. Kegagalan penerima isi pesan secara cermat disebut kegagalan komunikasi primer (primery breakdown in communication). Untuk memahami ini kita perlu memahami isi pesan dan komunikatornya.
- Kesenangan
Kedua pihak merasa senang atas situasi komunikasi yang sedang terjadi. Tidak semua komunikasi ditujukan untuk menyampaikan informasi dan membentuk pengertian. Misalnya ucapan “selamat pagi, apa kabar?”, tidak dimaksudkan mencari keterangan, tetapi membuat perasaan nyaman pada komunikan. Komunikasi ini lazim disebut Komunikasi Fatis (pathic communication), bertujuan menjadikan suatu hubungan yang hangat, akrab, dan menyenangkan.
- Persuasive (mempengaruhi sifat)
Kita paling sering melakukan komunikasi dengan tujuan untuk mempengaruhi orang lain. Contoh-contoh komunikasi persuasive : khatib dengan jemaah, politisi atau juru kampanye dengan calon pemilihnya, guru dengan muridnya agar belajar lebih tekun, dan sebagainya. Komunikasi persuasif memerlukan pemahaman tentang faktor-faktor pada diri komunikator, dan pesan yang menimbulkan efek pada komunikan. Persuasi didefinesikan sebagai proses mempengaruhi pendapat, sikap, dan tindakan orang dengan menggunakan manipulasi psikologis sehingga orang tersebut bertindak seperti atas kehendaknya sendiri. Para psikolog sering bergabung dengan komunikolog pada bidang persuasi.
- Hubungan sosial yang baik
Komunikasi ditujukan untuk menumbuhkan hubungan sosial yang baik. Manusia ingin menjalin hubungan dengan orang lain secara positif. Abraham Maslow menyebutkannya “kebutuhan akan cinta” (belongingness). Sedangkan William Schultz merinci kebutuhan sosial kedalam tiga hal: inclusion, control, affection. Inclusion maksudnya bahwa kebutuhan sosial ditujukan untuk menumbuhkan dan mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan orang lain dalam hal interaksi dan asosiasi. Control adalah pengendalian kekuasaan. Affection cinta serta kasih sayang. Jadi maksud kita ingin bergabung dan berhubungan dengan orang lain, kita ingin mengendalikan dan dikendalikan, dan kita ingin dicintai dan mencintai. Kebutuhan sosial hanya dapat dipenuhi dengan komunikasi interpersonal yang efektif.
- Motivasi
Komunikasi efektif mampu mendorong orang lain bertindak sesuai dengan keinginan kita. Persuasi disamping untuk mempengaruhi sikap, juga untuk mempengaruhi tindakan yang dikehendaki. Komunikasi untuk mempengaruhi sikap sangat sukar sekali. Tetapi efektifitas komunikasi biasanya diukur dari tindakan nyata yang dilakukan oleh komunikan. Misalnya sebuah iklan dikatakan sukses bila orang membeli barang yang ditawarkan. Propaganda suatu partai politik efektif apabila sekian juta memilih dan mencoblos lambang parpol itu.
Menimbulkan tindakan nyata adalah indikator efektifitas yang paling penting. Untuk menimbulkan tindakan kita harus berhasil lebih dahulu menanamkan pengertian, dan mengubah sikap atau menumbuhkan hubungan yang baik. Tindakan adalah hasil yang kumulatif seluruh proses komunikasi. Tindakan tidak hanya memerlukan pemahaman tentang seluruh mekanisme psikologis yang terlibat dalam proses komunikasi, tetapi juga faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi manusia.
TUJUAN DAN FUNGSI PSIKOLOGI KOMUNIKASI
“Hanya orang baik yang bisa mengerti orang itu baik, renungkanlah”…………..!!!
“Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Tuhan dalam aneka bangsa dan budaya agar saling mengenal”, begitu pesan Tuhan dalam Al-Qur’an (QS 49:13). Begitu pula dengan psikologi komunikasi, yang tujuan intinya adalah untuk mengenal elemen komunikasi dari setiap pelakunya: komunikator, pesan dan komunikan. Psikologi komunikasi dapat membantu kita untuk menyibak hikmah yang disampaikan Tuhan lewat interaksi berbagai ragam karakter dan tingkah laku manusia.
Psikologi komunikasi merupakan ilmu yang mencoba menelaah fenomena psikologis, baik persepsi maupun perilaku, suatu proses komunikasi. Dari cakupan ini, dapat diuraikan beberapa tujuan dan fungsi psikologi komunikasi secara umum:
1. Menjelaskan Ruang Lingkup Komunikasi
Beberapa psikolog, seperti Hovland, Janis, dan Kelly, mendefinisikan komunikasi sebagai proses dimana seorang individu (komunikator) mengalihkan atau memberikan rangsangan (biasanya dalam bentuk verbal) untuk merubah tingkah laku individu lainnya (audience). Sementara Dance mengartikan komunikasi dalam kerangka psikologi behaviorisme sebagai usaha menimbulkan respon melalui lambang-lambang verbal, ketika lambang-lambang verbal tersebut bertindak sebagai stimuli. Sedangkan Raymond S. Ross mendefinisikan komunikasi sebagai proses transaksional yang meliputi pemisahan dan pemilihan bersama lambang secara kognitif, sehingga membantu orang lain untuk mengeluarkan dari pengalamannya sendiri arti atau respon yang sama dengan yang dimaksud oleh sumber.
Apabila diperhatikan dalam psikologi, komunikasi mempunyai makna yang luas, meliputi segala penyampaian energi, gelombang suara, tanda diantara tempat, sistem atau organisme. Jadi psikologi menyebut komunikasi pada penyampaian energi dari alat-alat indra ke otak, pada peristiwa penerimaan dan pengelola informasi, pada proses saling mempengaruhi dalam diri individu. Jadi psikologi tidak hanya mengulas komunikasi diantara neuron. Psikologi mencoba menganalisa seluruh komponen yana terlibat dalam proses komunikasi yaitu baik komunikan, komunikator maupun pesan yang akan disampaikan .
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa psikologi memandang komunikan sebagai:
- Penyampaian energi dari alat indra ketempat otak
- Proses penerimaan dan pengolahan informasi dalam organisme
- Proses saling mempengaruhi antar sistem dalam diri organisme dan diantara organisme
- Mempersoalkan karakteristik yang mempengaruhi pelaku komunikasi
- Mempersoalkan sumber-sumber komunikasi, sejauh mana bisa mempengaruhi para pelaku komunikasi.
2. Memahami Teori-Teori Psikologi Komunikasi
Teori-teori dalam psikologi komunikasi adalah konsepsi psikologi tentang manusia. Beberapa teori yang berkembang dan menjadi aliran pemikiran adalah : psikoanalisis, kognitif, behaviorisme dan humanisme.
Psikoanalisis, seperti diungkapkan Freud, mengartikan segala tingkah laku manusia sebagai pernyataan dari dorongan biologis yang disembunyikan. Teori behavioral membicarakan atau mempelajari tinglah laku manusia yamg nyata saja kalau psikologi hendak dikatakan sebagai ilmu yang objektif. Teori humanistic, yang dikembangkan oleh Abraham Maslow, mengurutkan manusia sebagai berikut : kebutuhan fisik, keamanan, cinta dan menjadi anggota suatu kelompok, kebutuhan akan harga diri dan kebutuhan aktualisasi diri.
3. Memahami Pribadi Manusia yang Terlibat dalam Komunikasi
Meminjam istilah Freud, pribadi manusia sangat ditentukan oleh keberadaannya “ego (aku)” dalam dirinya. Dalam diri manusisa terdiri dari tiga tingkatan yaitu tingkatan aku orang tua, tingkatan aku dewasa, tingkatan aku kanak-kanak. Dengan adanya tingkatan ini, maka cara kita berkomunikasi dengan orang lain harus memperhatikan dan memahami orang lain, sekaligus memahami dan memperhatikan diri kita sendiri.
4. Memetakan sistem Komunikasi Intrapersonal. Interpersonal, Kelompok dan Massa
Komunikasi intrapersonal adalah komunikasi dengan diri sendiri atau pernyataan menusia yang ditujukan pada diri sendiri. Dalam komunikasi intrapersonal kita hanya bisa menduga, kita hanya bisa melihat dari apa yang kita lihat, adanya kemampuan untuk melihat jiwa orang lain. Komunikasi interpersonal yaitu komunikasi antar personal atau antar individu yang satu dengan yang lainnya. Dalam komunikasi interpersonal komunikasi di ekspresiakan, mengacu pada komunikasi tatap muka.
Komunikasi kelompok yaitu pernyataan manusia yang ditujukan pada kelompok tertentu. Komunikasi yang terjadi dalam kelompok ada dua, yaitu kelompok beraturan adalah jika sengaja dibentuk dan kelompok tidak beraturan misalnya crowd, mob, dan lain-lain.
5. Menjelaskan Psikologi Komunikator, Pesan dan Komunikan
Psikologi komunikasi mencoba menganalisa seluruh komponen yang terlibat dalam proses komunikasi. Pada komunikan dibahas karakteristik manusia komunikan dan faktor eksternal internal yang mempengaruhi perilaku komunikasinya.
Psikologi komunikasi juga melacak sifat-sifat dan apa yang menyebabkan suatu sumber komunikasi berhasil atau tidak dalam mempengaruhi orang lain. Komunikasi diantara individu menggunakan lambang-lambang. Untuk itu lambang-lambang yang disampaikan harus diteliti dan juga bagaimana proses pengungkapan pikiran.
TEORI-TEORI DALAM MENJELASKAN GEJALA-GEJALA
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
“Kemajuan manusia tidak bisa diukur hanya dengan perluasan pengetahuan kita, melainkan juga harus diukur dengan bertambahnya kesadaran akan ketidak tahuan. “ (Daniel B.)
Baim cilik, Abay dan Amel adalah sebuah fenomena dalam dunia media massa kita. Ia bisa mengakibatkan seorang anak tiba-tiba duduk bersimpuh di supermarket, merengek minta ibunya membelikan sebuah coklat yang dimakan Baim cilik, Abay dan Amel . Counter sebuah kaos tertentu, dulu sepi karena harganya yang mahal, mendadak diserbu ibu-ibu gara-gara kaos ini adalah “baju kesayangan Baim cilik, Abay dan Amel”. Beberapa anak tidak mau makan, kecuali disertai kecap tertentu, ikut-ikutan “Baim cilik, Abay dan Amel nggak mau makan kalau nggak disertai kecap ini”. Bukan hanya menyedot perhatian, sekaligus ibunya, untuk meniru tingkah dan kegemarannya. Maka sang bocah ajaib ini pun bisa kita catat sebagai bintang yang paling sering membintangi iklan televisi.
Psikologi komunikasi memang melahirkan banyak gejala-gejala, selain yang disebutkan diatas. Gejala-gejala yang melintasi pelbagai kurun kehidupan manusia, perputaran bumi dan pergantian siang dan malam, menjadi ayat atau pertanda bagi orang-orang yang mau memikirkannya (ul al albab = para “pembuka pintu”, orang-orang yang berakal, yang menangkap kebesaran tuhan lewat pengetahuannya dan mewartakan kepada khalayak [QS 3:190]). Para pemikir telah menelaah berbagai fenomena, menjelaskannya, membandingkan satu sama lain, dan menyusunnya dalam sebuah bahasan yang konseptual, sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan.
1 Pengetian Grand Theories dan Middle Range Theories
Berbagai penjelasan-penjelasan mengenai fenomena-fenomena tersebut semakin lama semakin mapan, dan kemudian melahirkan suatu teori. Teori didefinisikan pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan mengenai suatau peristiwa, hukum atau asas umum mengenai dasar suatu seni dan ilmu penggetahuan, atau pendapat, cara, atau aturan untuk melakukan sesuatu. Dalam berbagai ilmu pengetahuan yang mapan, dikenal “teori-teori akbar” (Grand Theories) yang bersifat umum dan cenderung filosofis, dan “teori-teori antara” (Middle Range Theories), yang bersifat terapan.
Teori-teori akbar merupakan teori-teori yang sudah lama dikenal (klasik) yang merupakan generalisasi dari berbagai fenomena. Teori-teori ini biasanya tidak terlalu rinci dan selalu membuka peluang dalam interprestasi dan evaluasi sesuai konteks. Argumen-argumen dalam Grand Theoris bersifat assumed, disepakati kebenarannya dan jarang sekali dibantah dan diperdebatkan.
Sedangkan teori-teori antara merupakan generalisasi empiris yang mampu memberikan kesan efisien, mengkonsolidasikan secara empiris dan bersifat evaluatif. Artinya Middle Range Theories harus terdiri atas pernyataan yang ditarik secara logis dan merupakan hasil pengujian dari riset yang dilakukan, serta dapat diterapkan pada riset-riset selanjutnya. Diungkapkan oleh Robert K. Merton, bahwa Middle Range Theories merupakan teori-teori yang berada diantara hippotesis kerja minor yang penting, dan terus berkembang disaat penelitian sedang berlangsung. Hal ini termasuk dalam seluruh usaha sistematis untuk mengembangkan kesatuan teori yang menjelaskan keseragaman perilaku, organisasi, dan perubahan terhadap fenomena yang teliti. Pada umumnya Middle Range Theories diturunkan dari satu Grand Theory tertentu, juga bisa berupa gabungan dari beberapa Grand Teories, bahkan bisa jadi dari berbagai disiplin ilmu.
Kegunaan teori-teori diatas bukan saja untuk menjelaskan berbagai fenomena yang tengah diteliti saja, tetapi juga dapat diterapkan dalam berbagai peristiwa yang lain. Teori pada prinsipnya adalah kaidah (hukum), sehingga dengan teori dapat diprediksi secara seksama dan dapat mendekati kebenaran. Hal-hal yang baru, ide-ide tentang sesuatu yang lebih baik, dapat lebih dipertanggungjawabkan jika didasarkan pada teori-teori.
Dalam lingkup psikologi komunikasi, manfaat teori-teori itu dapat dirasakan dalam banyak hal. Yang paling banyak dilihat adalah dalam perkembangan pendidikan. Pada masa pra modern, pendidikan dilakukan dengan cara cantrik (magang atau berguru pada orang yang dianggap pandai) yang sangat tergantung pada kapabilitas sang guru, bersifat subjektif individual, dan hanya dapat dilakukan oleh kalangan tertentu (pendeta, resi). Pendidikan modern memperkenalkan sistem pendidikan terorganisasi dan bersifat klasik. Teori-teori psikologi tentang stimulus dan respon telah menghasilkan berbagai metode belajar yang dapat diterapkan secara umum. Kaidah-kaidah dalam psikologi perkembangan kemudian melahirkan penggolongan tingkat pendidikan berdasarkan perkembangan subjek belajar, mulai dari playgroup sampai program doktoral. Masuknya prinsip-prinsip komunikasi menciptakan metode penyampaian materi belajar yang memperhatikan efek psikologi dari subjek belajar, seperti metode bermain bagi anak TK, metode program diskusi bagi program pasca sarjana, dsb.
2 Grand Theories dan Middle Theories dalam Psikologi Komunikasi
Seperti dijelaskan dalam bab sebelumnya, psikologi komunikasi merupakann ilmu “lalu lintas” disiplin ilmu lain. Ada yang diturunkan dari disiplin psikologi (teori-teori perkembangan genetic, teori kepribadian dan tipologi, teori-teori psikologi sosial), bilogi (teori-teori evolusi budaya), linguistic (teori-teori semiotika), dan sebagainya. Berikut disajikan beberapa teori yang dapat digolongkan dalam teori-teori akbar atau teori-teori antara untuk psikologi komunikasi.
2.1 Teori-teori Psikologi Perkembangan (Genetis)
Psikologi perkembangan sebagai cabang ilmu psikologi menelaah pelbagai perubahan intraindividual dan perubahan-perubahan interindividual yang terjadi dalam perubahan intraindividual. Tugasnya, seperti yang dikatakan oleh La Bouvie, “tidak hanya mendeskripsikan tetapi juga menjelaskan atau mengeksplikasikan perubahan-perubahan perilaku menurut tingkat usia sebagai masalah hubungan anteseden (gejala yang mendahului) dan konsekuensinya”.
Awal mulanya, seperti kata Siegel “psikologi perkembangan mengkhususkan diri pada masalah dan tahapan-tahapan. Para penyelidik terdorong untuk mempelajari usia yang khas dan tertentu dimana terjadi berbagai tahapan perkembangan. Bidang tempat riset yang dipusatkan merupakan bidang yang dianggap penting untuk penyesuaian evolusi manusia. Sebagian besar riset dipusatkan pada anak-anak usia prasekolah, usia sekolah, dan remaja. Kemudian riset diperluas ke bawah, pertama ketahap kelahiran lalu ke pembuahan, dan selanjutnya keatas, ke tahap dewasa, lanjut usia, dan akhirnya usia pertengahan.
Dari pengertian psikologi, perkembangan di atas ada beberapa teori antara yang terkait dengan psikologi komunikasi
2.1 Teori Arah Perkembangan
Teori ini menyatakan, bahwa perkembangan jiwa manusia mengikuti pola tertentu yang dapat diramalkan. Misalnya, pola teratur dari perkembangan fisik, motor, bicara dan perkembangan intelektual. Ada dua kaidah dalam perkembangan ini, yaitu “hukum chepalocaudal” yang menetapkan bahwa perkembangan menyebar ke seluruh tubuh dari kepala ke kaki dan “hukum proximodistal” yang menerangkan bahwa perkembangan menyebar keluar dari titik proses sentral tubuh ke anggota-anggota tubuh.
Jika kondisi lingkungan tidak menghambat, perkembangan akan mengikuti pola yang berlaku umum. Misalnya, bayi yang merangkak sebelum berjalan dan minat terhadap seks baru muncul setelah terjadi perubahan-perubahan pubertas. Tidak terdapat kejelasan yang menyatakan bahwa individu-individu memiliki pola perkembangannya sendiri, walaupun ternyata bahwa laju perkembangan berbeda dari satu individu dengan individu yang lain.
Kondisi lingkungan penting karena kondisi ini memungkinkan meramalkan apa yang akan dilakukan orang pada usia tertentu dan merencanakan pendidikan dan pelatihan mereka sesuai dengan pola ini. Kalau perkembangan tidak dapat diramalkan, tidak mungkin merencanakan setiap periode rentang kehidupan. Misalnya, orang-orang usia pertengahan tidak akan mempunyai orientasi kedepan untuk membuat rencana sehubungan dengan menurunnya kesehatan dan berkurangnya penghasilan dengan bertambahnya usia mereka, dan orang tua tidak mampu membuat rencana pelatihan yang diperlukan untuk anak-anak mereka sehingga sesuai dengan masa hidup dewasanya.
Beberapa “teori antara” yang diturunkan dari teori-teori psikologi perkembangan antara lain :
2.1.2 Teori Tingkat Perkembangan Intelegensi-Piaget
Piaget menyatakan bahwa ada empat tingkat perkembangan stuktur kognitif, yaitu:
- Intelegensi Sensorimotor. Terdapat pada anak berumur 0 sampai dengan 1,5 atau 2 tahun. Kemampuan anak itu masih terbatas pada penginderaan rangsangan-rangsangan dan memberikan reaksi-reaksi motoris yang mekanistis.
- Representrasi Operasional, terjadi antara usia dua sampai tujuh tahun. Dalam fase ini terjadi pembentukan simbol-simbol untuk kelak kemungkinan anak itu berfikir. Sifat anak pada usia ini masih terpusat pada diri sendiri (Ego-centris).
- Operasi Konkret, terjadi pada usia tujuh sampai sebelas tahun. Pada tahap ini anak tidak lagi Ego-centris melainkan banyak berorientasi keluar, kepada objek-objek yang konkret. Ia aktif dan banayk bergerak, tetapi perbuatan-perbuatannya selalu tidak dapat dilepaskan dari hal-hal yang konkret.
- Operasi Formal, tejadi antara 11-15 tahun. Individu tidak lagi tertarik pada objek-objek yang nyata atau konkret. Ia mampu menyusun kesimpulan dan hipotesa-hipotesa atas dasar simbol-simbol semata.
2.2 Teori-teori Tipologi kepribadian
Teori ini banyak menguraikan mengenai struktur kepribadian manusia sebagai suatu keseluruhan. Karakter, potensi, dorongan-dorongan dari dalam diri manusia diulas, dan melahirkan berbagai “Teori akbar” seperti di bawah ini :
- Teori Insting – McDougall
Teori ini menyatakan bahwa insting adalah kecenderungan untuk bertingkah laku tertentu dalam situasi tertentu. Kecenderungan bertingkah laku yang tidak dipelajari sebelumnya adalah pembawaan sejak lahir. Pada manusia insting sudah banyak berkurang, tetapi menurut Daugall insting pada manusia masih jelas tampak pada emosi.
- Teori Kognisi Individu – David Krech
Teori ini mengatakan bahwa gambaran kognisi seseorang bukan suatu cermin dari dunia fisik namun ia lebih merupakan suatu bagian dari kepribadian, yang didalamnya objek-objek tertentu terpilih dan kemudian memiliki suatu peran yang besar. Kesemuanya itu ditangkap dalam wadah proses terbentuknya kognisi. Setiap organisasi kognisi mempunyai dua faktor penentu utama yaitu faktor stimulus dan faktor personal.
- Teori Tongkat Adaptasi – Herons
Menurut Herons, manusia mempunyai tiga tingkat adaptasi dalam menerima stimulus, yaitu stimulus yang direspon sebagai pusat perhatian, stimulus yang datang mendadak membentuk latar belakang menjadi pusat perhatian, dan sisa-sisa pengalaman yang lalu dengan stimulus yang serupa akan menarik perhatian.
Berbagai teori yang bersifat umum di atas, dari psikologi kepribadian ini dapat diturunkan beberapa teori antara yang sudah diterapkan dan diujikan dalam berbagai riset, seperti:
2.2.1 Teori Harapan Motivasi (Expectensi of Motivation)
Teori ini didasarkan pada keyakinan bahwa motivasi dapat ditumbuhkan dengan memformulasikan perkiraan sukses dengan nilai intensif kesuksesan yang diberikan. Teori ini dituangkan dalam rumus :
Motivasi = Perkiraan Sukses x Nilai Insentif Kesuksesan
Formula ini disebut Expectancy-velence Model, karena teori ini sepenuhnya tergantung pada harapan-harapan seseorang terhadap penghargaan yang diberikan (reward). Teori ini menyatakan bahwa motivasi seseorang untuk mencapai sesuatu tergantung pada produk atau hasil kali antara estimasi seseorang tentang taraf kemungkinan sukses apabila ia mengajarkan sesuatu itu dengan nilai yang akan diperoleh atas kesuksesan tersebut (nilai intensif kesuksesan).
2.2.2. Toeri Dorongan Berprestasi (n-Ach) – McCelland
Teori ini menyatakan bahwa suatu keinginan akan atau cenderung untuk mengatasi hambatan atau peringatan menyelesaikan tugas-tugas yang sulit melalui kekuatan usaha (n-Ach for echeivement, dorongan untuk berprestasi). Dorongan berprestasi dapat memanifestasikan dirinya sebagai suatu sikap competitive dan willingness untuk mengambil resiko tertentu. Dorongan berprestasi ini merupakan dorongan untuk bekerja keras bukan karena imbalan materi semata, melainkan karena rasa kebutuhan atau kepuasan berprestasi.
2.2.3 Teori Hygiene – Satisfier
Teori ini menjelaskan tentang kepuasan manusia dalam bekerja. Sesuai dengan namanya teori ini terdiri dari dua faktor yaitu Hygiene factor yang meliputi upah, rasa aman, status, kondisi kerja, hubungan kerja dan sebagainya. Faktor yang kedua adalah satisfier factor yang meliputi kemungkinan untuk maju dan berkembang, adanya tanggungjawab pekerjaan yang baik, pengakuan atas hasil kerja, dan sebagainya.
2.2.4 Teori Quantum Learning
Quantum Learning berakar dari upaya Dr. Georgi Lozanov, seorang pendidik berkebangsaan Bulgaria yang bereksprerimen dengan apa yang disebutnya sebagai “suggestology” atau suggestopedia. Pada prinsipnya adalah sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar dan setiap detail apapun memberikan sugesti positif maupun negatif. Beberapa teknik yang digunakan untuk memberikan sugesti positif adalah mendudukkan murid secara nyaman, memasang musik latar dalam kelas, meningkatkan partisipasi individu, menggunakan poster-poster untuk memberi kesan besar sambil menonjolkan informasi, dan menyediakan guru-guru yang terlatih baik dalam seni pengajaran sugestif..
Istilah yang hampir dapat dipertukarkan dengan suggestology adalah “pemercepatan belajar” (accelerated learning). Pemercepatan belajar didefinisikan sebagai “memungkinkan siswa untuk belajar dengan kecepatan yang mengesankan, dengan upaya yang normal, dan dibarengi kegembiraan”. Cara ini menyatukan unsur-unsur yang secara sekilas tampak tidak mempunyai kesamaan : hiburan, permainan, warna, cara berfikir positif, kebugaran fisik dan kesehatan emosional. Namun semua unsur ini bekerja sama untuk menghasilkan pengalaman belajar yang efektif.
2.3 Teori-teori dalam Psikologi Sosial
Psikologi sosial banyak membahas hubungan manusia satu dengan yang lain. Mulai hubungan antara dua orang, hubungan dalam kelompok, masyarakat, dan massa. Beberapa teori akbar yang dapat dikategorikan di sini antara lain :
a. Teori Keseimbangan dalam Perubahan Kognisi (balance Theory)
Teori ini menjelaskan suatu petunjuk keseimbangan (balance) yang berada dalam sistem kognisi yang lebih luas, unsur-unsur dari sistem membentuk kesatuan yang tidak bertentangan dalam interaksi.
b. Teori Kohesivitas dalam Kelompok – Seashore
Kelompok kecil rata-rata lebih cohesive dari pada kelompok besar. Begitu pula jangkauannya (range) kohesivitas kelompok yang lebih kecil, akan lebih besar dari pada kelompok dengan jumlah anggota lebih banyak. Manusia cenderung akan lebih bahagia dalam kelompok yang kecil.
c. Teori Pembentukan Kelompok – Loomes dan Beegle
Menurutnya, setiap kelompok dibentuk oleh salah satu dari faktor ikatan pertalian keluarga, kenggotaan kelompok etnis, keanggotaan kelompok keagamaan, ikatan usia, ikatan jenis kelamin dan perasaan nilai dan sikap.
ALIRAN-ALIRAN DALAM
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Orang yang mengakui segala tahu, bukanlah orang yang berpengetahuan (Hamka)
Peristiwa gerhana matahari sebenarnya adalah peristiwa tertutupnya pandangan matahari dari bumi oleh bulan. Namun, fenomena ini mempunyai beragam penafsiran. Orang Jawa menganggapnya sebagai dimakannya Surya oleh Betara Kala. Suku pemuja matahari di Aztec melihat sebagai kemarahan sang Dewa Agung. Kaum fisikawan memandangnya sebagai fenomena kontak energi yang luar biasa karena bumi, bulan, dan matahari dalam satu garis lurus. Di Indonesia, fenomena ini bahkan dipergunakan untuk menguji kesetiaan rakyat kepada pemerintah.
Sudah menjadi kodrat manusia untuk selalu berbeda pendapat, memberikan penafsiran dan penilaian yang berlainan tentang berbagai hal. Demikian pula dalam pengembangan ilmu pengetahuan, selalu memunculkan berbagai pendapat, pandangan, aliran, dan mazhab. Psikologi komunikasi pun, sebenarnya membahas satu hal sama, bagaimana jiwa berperan dalam komunikasi manusia. Namun perkembangannya kemudian melahirkan berbagai aliran pemikiran.
Aliran-aliran pemikiran dalam psikologi komunikasi banyak dipengaruhi oleh konsepsi-konsepsi psikologi tentang manusia. Dari sekian banyak teori psikologi, terdapat empat pendekatan yang paling dominan: psikoanalisis, behaviorisme, psikologi humanistik, dan psikologi eksistensial.
- Aliran Psikoanalisis dalam Psikologi Komunikasi
Psikoanalisis merupakan aliran psikologi yang memperhatikan struktur jiwa manusia. Tokoh utamanya Sigmund Frued, yang kemudian diteruskan pengikutnya Carl Gustav Jung, memfokuskan perhatiannya pada totalitas kepribadian manusia, bukan bagian-bagiannya yang terpisah-pisah.[1]
Psikoanalisis menganggap manusia sebagai Homo Valens, manusia dengan keinginan-keinginan. Teori-teorinya menjelaskan tingkah laku manusia sebagai hasil tenaga yang beroperasi di dalam pikiran dan tidak disadari individu. Aliran ini menekankan pada adanya kekuatan yang berbeda, dan perhatian utama pada tiga proses mental : konflik antara motif-motif yang menentang, kecemasan tentang motif-motif yang tidak dapat diterima, dan pertahanan terhadap motif-motif yang tidak dapat diterima.
Sigmund Freud mendasarkan teorinya pada kepribadian manusia dan pada dua ide yang sangat mendasar, yaitu bahwa tingkah laku manusia tidak dikuasai akal tetapi oleh naluri-naluri irasional. Hanya sebagian kecil dari pikiran dan kegiatan kita muncul dari proses mental yang disadari. Yang paling besar mempengaruhi kita adalah ketidaksadaran, suatu tempat penyimpanan ingatan dan keinginan-keinginan yang tidak pernah timbul mencapai kesadaran atau telah ditekan yaitu didorong keluar dari kesadaran, sebab menimbulkan rasa takut atau malu dalam diri kita.
Berdasarkan dua ide tersebut Freud membagi kepribadian manusia menjadi tiga “sub system” yaitu apa yang disebut “Ego”, “Id”, dan “Superego”. Id yang beroperasi dalam bagian ketidaksadaran, terdiri dari naluri-naluri seksual dan naluri menyerang yang membentuk dasar dari tingkah laku. Manusia Id, mendorong manusia agar dapat memenuhi naluri-naluri tersebut tanpa memperhatikan realitas akal atau moralitas. Karena itu Id bekerja berdasarkan prinsip kesenangan.
Ego merupakan bagian kepribadian yang memikir, mengetahui, memecahkan masalah. Peran pokok ego adalah mencari untuk menyenangkan Id, tetapi dengan dibatasi kenyataan akal dan moralitas. Ego beroperasi berdasarkan prinsip realitas.
Superego menjadi kode moral kepribadian, sama dengan yang disebut kata hati, tetapi sedikit lebih tegas. Fungsi pokok superego dalam pemuasan naluri Id, superego juga menentukan cita-cita mana yang akan diperjuangkan.
Tekanan Frued dalam aliran Psikoanalisis lebih banyak meletakkan tekanan pada ego dibandingkan yang dilakukan oleh para muridnya. Sebagaimana Freud memandang Id sebagai motivator dasar dalam tingkah laku manusia. Ego mengatur dorongan Id, tetapi hal itu tidak mampu menggantikan tiap dorongan itu sendiri. Oleh karena itu sekalipun fungsinya makin rumit ego tidak dapat menjelaskan kepribadian sebenarnya. Ini adalah hak istimewa dari Id.
Penganut teori Freud lebih memperhatikan aspek sosial dalam penyesuaian dibanding jalan yang ditempuh individu dalam berinteraksi dengan manusia lain. Bagi Freud penentu pokok kepada penyesuaian orang dewasa merupakan jalan pemuasan naluri ide pada berbagai fase permulaan kanak-kanak. Bagi penganut Freud pemuasan naluri biologis hanya merupakan salah satu komponen dari perkembangan sosial pada umumnya, kualitas dari hubungan anak dengan orang tua dan dengan kelompok sebaya. Hal-hal tersebut merupakan kekuatan pokok dalam penciptaan pribadi orang dewasa.
Dalam psikologi Komunikasi, aliran Psikoanalisis ini banyak membantu untuk menjelaskan berbagai dorongan-dorongan pada diri manusia dalam berkomunikasi. Misalnya dalam memilih mode pakaian, gaya bicara, dan kata-kata yang dipakai, memilih gaya rumah, mobil, aksesoris dan berbagai perlengkapan gaya hidup lainnya, dapat ditelaah dari dorongan terpendam dari orang-orang yang mengekspresikannya.
- Aliran Behaviorisme dalam Psikologi Komunikasi
Tokoh pencetus dan penganut aliran Behavioral adalah William McDougall (1871-1938) yang mengembangkan aliran Psikologi Purposif (bertujuan) atau Psikologi Hormik. Mc Dougall mengembangkan alirannya bahwa psikologi hendaknya hanya membicarakan atau mempelajari tingkah laku manusia yang nyata saja kalau hendak dikatakan sebagai ilmu yang objektif. Tokoh lain, John Broades Watson (1878-1958) yang mengembangkan aliran behavioreisme di Amerika, menyatakan bahwa psikologi harus dipelajari seperti orang mempelajari ilmu pasti atau ilmu alam. Karena itu Psikologi harus dibatasi dengan ketat pada penyelidikan tentang tingkah laku yang nyata saja, ia tidak mengakui adanya kesadaran yang hanya dapat diteliti melalui metode instropeksi.
Aliran behaviorisme ingin bersifat objektif dan empiris, maka memfokuskan kajiannya pada perilaku yang tampak, karena ini yang bisa diamati secara empiris, diukur, dilukiskan dan diamalkan. Segala perilaku manusia, kecuali insting, merupakan hasil belajar, penyesuaian diri terhadappengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mempedulikan faktor internal manusia, apakah ia jelek, rasional, agnotis atau religius. Dari sinilah kemudian muncul ungkapan Homo mechanicus (manusia mesin).
Edwin B. Holt (1873-1946) berpendapat bahwa tingkah laku adalah satu-satunya kunci untuk menerangkan jiwa. Edward Chase Tolman (1886-1959) mengatakan bahwa tingkah laku manusia secara keseluruhan disebut tingkah laku moral. Tingkah laku moral terdiri dari tingkah laku-tingkah laku yang lebih kecil yang disebut tingkah laku molekular.
Berdasarkan behaviorisme klasik, orang terlibat dalam tingkah laku tertentu karena mereka telah mempelajarinya melalui pengalaman-pengalaman terdahulu. Ganjaran dan hukuman akan mempengaruhi tingkah laku. Sebagai contoh depresi dapat dijelaskan sebagai tingkah laku aktif karena beberapa kejadian, misalnya kematian orang tua, kehilangan pekerjaan.
Dalam beberapa tahun terakhir ini, behaviorisme telah meluas dengan cepat. Banyak ahlinya yang merasa bahwa tingkah laku tidak hanya dapat dijelaskan berdasarkan pada hadiah maupun hukuman eksternal. Pikiran dan perasaan atau kejadian-kejadian internal juga mempengaruhi.
Menurut kaum behaviorisme modern, tidak hanya belajar observasional tetapi banyak tipe belajar yang dipengaruhi oleh proses mental murni. Kita menghadiahi dan menghukum diri sendiri dengan pikiran dan perasaan kita sendiri (bangga karena keberhasilan, merasa bersalah karena kekeliruannya) seperti kita telah menghadiahi dan dihukum oleh dunia luar.
Behaviorisme kognitif memperhatikan proses-proses mental yang berarti telah meningkatkan suatu bidang penelitian baru yang utuh, disebut behaviorisme kognitif. Pokok bahasan dari behaviorisme kognitif adalah suatu jawaban yang bukan terhadap kejadian-kejadian diluar seperti proses mental mengenai cara kita mengartikan kejadian tersebut. Sebagai pertimbangan setiap interpretasi menghasilkan jawaban emosional yang berbeda dan tentunya tingkah laku yang berbeda pula. Menurut kaum behaviorisme kognitif, penyesuaian yang baik merupakan kemampuan untuk mengartikan kejadian-kejadian secara nyata (dengan akal) positif, sehingga hasil tingkah lakunya akan dapat lebih menyempurnakan daripada menghancurkan diri sendiri.
Kaum behaviorisme kognitif percaya bahwa kebiasaan mental yang mengarah pada penyesuaian baik dan buruk dipelajari dengan cara yang sama, seperti dinyatakan kaum behaviorisme klasik tentang kebiasaan-kebiasaan yang dapat diamati dan dipelajari melalui hadiah-hadiah dan hukuman-hukuman.
Behaviorisme kognitif menurut Walter Mischel (1973) mengatakan bahwa tingkah laku merupakan hasil saling berhubungan antara karakteristik pribadi dengan lingkungan. Kaum behaviorisme yang kaku mencoba menjelaskan tingkah laku manusia hanya berdasarkan situasinya saja, kejadian-kejadian internal mempengaruhi individu seperti apa yang dilakukannya.individu sama pentingnya dengan situasi. Variable situasional antara lain seperti : siapa yang berbicara dengan anda, dimana anda berdiri, betapa panasnya hari ini, dsb. Faktor-faktor eksternal ini mempengaruhi tingkah laku dengan dukungan variabel personal atau faktor internal seperti kemampuan, kebiasaan, harapan-harapan, nilai-nilai dan rencana individu.
Keungulan dari aliran yang dikembangkan Mischel dalam behaviorisme kognitif yaitu seseorang mempengaruhi tingkah lakunya melalui pikiran mereka dan karena itu mereka dapat mengubahnya secara lebih baik dengan mengubah pikirannya. Ini merupakan suatu pendekatan yang dapat kita pelajari secara lebih teliti.
Aliran behaviorisme banyak membantu dalam psikologi komunikasi, banyak membantu dalam menjelaskan konvensi-konvensi dalam komunikasi suatu kelompok sosial. Berbagai idiom yang lahir dalam kelompok sosial tertentu (misalnya bahasa gaul), dapat dijelaskan bahwa perilaku berkomunikasi seseorang ditentukan oleh interaksi dengan lingkungannya, dalam hal ini lingkungan sosial.
- Aliran Humanistik dalam Psikologi Komunikasi
Aliran Psikologi Humanistik dikembangkan dan dipelopori oleh Abraham Maslow, lahir dan berkembang dengan menentang aliran yang dikembangkan oleh behaviorisme, karena dalam anggapan Humanistik, apa yang dikembangkan oleh behaviorisme sangatlah pragmatis terhadap eksistensi manusia. Kaum yang mengikuti aliran humanistik berpendapat bahwa penyesuaian yang ideal lebih dari sekedar penyesuaian secara sederhana. Ini berarti perkembangan seluruh kemampuan yang dimiliki. Untuk menggambarkan pendekatan idealistik pada penyesuaian, perlu dilihat dahulu dua teori humanistik yang sangat berpengaruh, yaitu Abraham Maslow dan Carl Rogers.
Abraham Maslow (1908-1970) merasa bahwa banyak tantangan penyesuaian yang diajarkan oleh aliran psikodinamika dan behaviorisme seperti pemenuhan biologis, menghargai diri sendiri. Maslow mengurutkan kebutuhan manusia sebagai berikut: Kebutuhan fisik, kebutuhan keamanan, kebutuhan cinta dan menjadi anggota suatu kelompok, kebutuhan harga diri, dan kebutuhan untuk aktualisasi diri. Penyesuaian yang optimal baru terjadi bila orang tersebut telah dapat memenuhi keempat kategori kebutuhan yang lebih dulu, selanjutnya baru mengarah pada aktualisasi diri yaitu suatu ekspresi yang bebas dan sempurna dari kemampuan-kemampuan yang dimiliki.
Maslow (1970) telah meneliti tentang karakteristik orang-orang yang telah dapat mengaktualisasikan dirinya. Carl Rogers memberi batasan penyesuaian dengan istilah aktualisasi diri. Menurut Rogers (1951) kunci aktualisasi diri adalah konsep diri. Konsep diri sebagian besar merupakan hasil pengalaman kita pada waktu kecil, khususnya dengan orang tua kita sendiri. Semua anak secara alamiah mendambakan kehangatan dan penerimaan.
Rogers dan Maslow mendapat kritik atas optimisme dalam meyakini bahwa ekspresi penuh dari seluruh segi kepribadian adalah sesuatu yang baik. Namun demikian bagi para pengikut mereka, optimisme para humanis itu mungkin merupakan sumbangan paling berharga dari mereka terhadap psikologi.
Dalam Psikologi Komunikasi, aliran Humanistik banyak membantu dalam menjelaskan mode komunikasi yang memperkuat harkat manusia, atau menyampaikan bahwa dirinya adalah wanita kantoran dengan mengenakan blazer saat kerja. Penyair banyak menggunakan bahasa dan kata yang mandayu-dayu saat berbicara, agar ia diketahui sebagai seorang penyair.
- Aliran Eksistensial dalam Psikologi Komunikasi
Victor Frank menjadi seorang pemikir yang terkenal dalam bidang psikologi yang menyangkut eksistensialis. Dia beranggapan bahwa aliran eksistensialis sesuai dengan apa yang dikatakan psikologi tradisional bahwa akan menghasilkan gambaran yang rancu dari keadaan manusia jika meninggalkan berbagai pertimbangan tentang kehidupan rohani. Sisi lain eksistensial, psikologi mempelajari dan mengkaji tentang suatu pemikiran dinamis dan kepribadian.
Seorang eksistensialis menitikberatkan pada kesulitan mengembangkan pribadi agar dapat berkembang secara bebas. Kesulitan yang paling utama adalah konformitas dan materialisme yang dikembangkan masyarakat industri modern. Eksistensialis mempunyai kritik terhadap masyarakat modern. Mereka merasa bahwa dunia industri yang didorong oleh masyarakat akan menolak kebenaran dari diri mereka sendiri, akan membentuk keterasingan yang meluas dan merasa tidak bermakna dalam hidup.
Kekuatan motivasi utama dari kehidupan bukanlah keinginan untuk senang atau keinginan untuk berkuasa seperti yang dinyatakan oleh ahli prikodinamika, melainkan lebih banyak keinginan untuk bermakna. Satu-satunya jalan untuk mendapatkan makna dari kehidupan kita adalah dengan jalan mengikuti nilai-nilainya. Frank mengatakan bahwa spiritual merupakan kebutuhan mutlak untuk kesehatan psikis.
Kaum eksistensialis memandang tingkah laku sama dengan apa yang dilakukan oleh kaum humanis, dimana kaum humanis memandang tingkah laku sebagai hasil dari pilihan yang bebas. Mereka juga berpendapat bahwa persepsi, kesanggupan dan kemampuan tiap orang adalah unik dan bahwa penyesuaian yang baik adalah realita penuh tentang kesanggupan seseorang.
Menurut kaum humanis, aktualisasi diri merupakan suatu hal yang otomatis. Dapat dipahami bahwa para eksistensialis tidak memiliki pandangan yang optimis seperti yang dimiliki oleh para humanis.
- Kritik terhadap Aliran-aliran Psikologi
“Psikologi hanyalah ilmu tentang jiwa, bukan ilmu jiwa itu sendiri”, begitu ungkap Budayawan Indonesia Emha Ainun Najib dalam salah satu pernyataannya. Berbagai aliran yang dikembangkan oleh pemikir Barat seolah belum menguak misteri jiwa itu sendiri. Di berbagai tempat di Dunia Timur, pengolahan jiwa manusia menuju Kebenaran Sejati (Sangkan Paraning Dumadi) yang menjadi tujuan utama hidup manusia, seolah terasa dangkal ketika ditelaah oleh Psikologi Barat.
Kritik orang Timur pada Psikologi Barat sebenarnya berujung pada satu hal, tidak disertakannya Pengaruh Tuhan dalam pengembangan teorinya. Aliran Humanistik yang terlalu optimistic seolah menyingkirkan peran Tuhan (the Role of God). Psikoanalisis malah menyebut perilaku ketuhanan sebagai dorongan Id terhadap sesuatu yang mesti dipuja. Manusia menjadi demikian bebas, cenderung tak terkendali, dan kini melahirkan bumi yang rusak compang-camping. Manusia Timur lebih memilih kepasrahan dengan Kebenaran Sejati, dan menyelaraskannya dalam segala kehidupan.
Salah satu kritik yang cukup sistematis dilontarkan pemikir Islam dari Indonesia, yang membandingkan konsep jiwa dan manusia dari Psikologi barat dan dari Al-Qur’an. Tokoh-tokohnya antara lain Hanna Jumhana Bastaman, Jamaludin Ancok, dan Fuat Nashori Suroso.
Mereka mengkritik Psikologi Modern dengan tiga alirannya: behaviorisme, psikoanalisis, dan psikologi humanistic. Behaviorisme yang menganggap manusia dilahirkan tanpa bakat dan semata-mata melakukan respon terhadap lingkungan, ditolak karena tidak memasukkan unsur Tuhan dalam pembentukan jiwa manusia. Psikoanalisis, yang memandang manusia bekerja atas dorongan-dorongan libido dan ditentukan oleh pengalaman masa lalunya, ditolak karena menyebabkan pesimisme atas pengembangan jiwa manusia. (Bandingkan dengan konsep Islam mengenai jiwa mampu menemui Tuhannya (Nafs al Muthmainnah).
Psikologi Humanistik, yang menganggap manusia pada dasarnya adalah baik dan mempunyai potensi tidak terbatas, ditolak karena terlalu optimistik dan menjadikan manusia menjadi pemeran tunggal dan mampu melakukan “Peran Tuhan”. (Bandingkan dengan konsep manusia sebagai hamba (‘abd) dan wakil (khalifah) Tuhan di Bumi).
Mereka mencoba memberikan “Psikologi Islami” sebagai alternatif pendekatan, yang disusun memakai Al-Qur’an sebagai acuan utama. Konsep utama Psikologi Islami adalah “manusia yang fitrah”, yang menganggap manusia adalah baik karena berasal dari Tuhan dan selalu ingin kembali pada Allah sebagai Kebenaran Sejati (Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un).[2]
TEORI MEMORI DAN PERSEPSI
DALAM PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Maksud menuntut ilmu bukanlah semata-mata memperluas ilmu pengetahuan saja, melainkan untuk mengabdi pada masyarakat dan mempertinggi mutu pribadi (Hamka)
Ada kisah lucu saat seorang filsuf Yunani Klasik, Archimides menemukan hukum tentang “Gaya Tekan ke Atas Air”. Saat itu ia tengah berendam di bak mandinya. Segarnya atau sentuhan lembut gerakan air tak terlampau dipedulikannya. Beberapa hari ini ia tengah merenungkan, mencoba mencari tahu mengapa benda selalu lebih ringan jika berada di atas air, dan bagaimana cara menentukan besarnya “pengurangan berat”. Dirasakannya, air seolah menekan tubuhnya ke atas. Semakin ia menenggelamkan tubuhnya semakin besar tekanan air yang ia rasakan. Tiba-tiba, “Eureka! Eureka!” (Eureka artinya “Aku telah menemukan”). Ia telah menemukan apa yang digelisahkan selama ini. Sang filsuf bersorak kegirangan, melompat dari bak mandinya, hingga konon lupa mengenakan pakaiannya.
Fokus perhatian kita bukan pada telanjangnya Archimides ini, tetapi bagaimana ia berhasil menangkap fenomena sehingga kemudian ia merumuskan hukum gaya tekan ke atas zat cair adalah “sebesar berat zat cair yang dipindahkan oleh benda yang dimasukkan”. Jika orang mandi, kebanyakan yang dirasakan adalah sentuhan kesegaran air, atau mungkin riak-riak halus bak pijatan ke badan. Namun karena ada sesuatu yang terlebih dulu ada dikepalanya, Archimides mampu merasakan lain, sesuatu yang lebih unik.
Apa yang dirasakan orang tergantung dari apa yang dipikirkannya. Dengan stimulus yang sama, persepsi yang diterima orang bisa berbeda-beda. Salah satu yang menyebabkan adalah apa yang tersimpan dalam memori orang yang bersangkutan. Persepsi dan memori, dikaji sebagai sistem komunikasi di dalam diri. Pengetahuan mengenai persepsi dan memori menjadi penting dalam Psikologi Komunikasi, karena pesan yang disampaikan dapat kena pada sasaran jika selaras dengan apa yang ada di dalam benak si penerima pesan.
- Teori-teori tentang Memori
Memori secara sederhana dapat diartikan sebagai kemampuan manusia untuk mengingat atau menyimpan data-data di dalam otaknya. Diuraikan Schlessingen dan Groves (1976), Memori merupakan sistem yang sangat berstruktur, yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta tentang dunia dan menggunakan pengetahuannya dan membimbingnya. Menurut John Brissith, Manusia mampu menyimpan informasi 100 triliun bit. Von Neuman menyebutkan jumlah yang lebih besar, yaitu 2,8 X 1010, bahkan Asimov menyatakan otak manusia selama hidupnya menyimpan sampai 1 kuintrilliun bit.
Psikologi memberikan perhatian khusus pada memori, karena ini sangat berpengaruh pada tingkat daya serap manusia akan stimulus yang diterima. Memori disusun sebagai sebuah pengaturan (set) kompleks yang ekstrim pada proses dan mekanisme untuk mengakses pengetahuan yang lama dan mengencode informasi baru. Untuk mengapresiasi pemusatan memori untuk kehidupan mental, kita hanya memerlukan membayangkan apakah itu akan seperti mencabut memori untuk sebuah jangka waktu atau bahkan lebih efektif, untuk mengobservasi seseorang yang mempunyai pengalaman tidak membahagiakan.
Penggunaan umum dari memori adalah sebagai sesuatu untuk menyimpan dan untuk mengingatkan kembali fakta-fakta, misalnya apakah ibukota negara Indonesia, dengan siapa kamu pergi kemarin, dan sebagainya. Lebih jauh kita cenderung untuk menyamakan mempunyai sebuah memori yang baik dengan kemampuan untuk menyamakan yang tidak jelas atau fakta-fakta secara detail.
Lebih jelasnya kita menyimpan dan mengingat fakta-fakta, tetapi memori kita tidak digunakan secara sederhana untuk mengumpulkan kembali fakta-fakta yang telah kita pelajari. Bahkan dalam situasi dimana fakta diragukan atau disangsikan, kita sering tidak mendapatkan kembali informasi yang berhubungan yang membantu kita menjawab pertanyaan. Misalnya untuk pertanyaan berapakah nomor telepon Kerajaan Inggris ? Kita tidak mencari melalui seluruh pengetahuan kita tentang Kerajaan Inggris untuk menyadari bahwa kita tidak mengetahui nomor telepon Kerajaan Inggris.
Memori bisa berfungsi sebagai penyimpanan sensor (sensory storage). Sensori storage juga merupakan proses perceptual dari memori. Ada dua macam memori: memori ikonis untuk materi yang kita peroleh secara visual, dan memori ekosis untuk materi yang masuk secara auditif (melalui pendengaran). Penyimpanan disini berlangsung cepat, hanya berlangsung sepersepuluh sampai seperempat detik. Sensory storage lah yang menyebabkan kita melihat rangkaian gambar seperti bergerak ketika kita menonton film.
Banyak pemikiran yang berusaha menjelaskan pengertian memori secara teoritis. Di bawah ini disajikan tiga diantaranya yang cukup representatif:
- Teori Aus (Disuse Theory)
Menurut teori ini, memori hilang atau memudar karena waktu. Memori kita akan kuat bila dilatih terus menerus. Menurut William James dan Benton J. Underwood dalam eksperimennya mengatakan bahwa makin sering mengingat, makin jelek kemampuan mengingat.
- Teori Interferensi (Interference Theory)
Menurut teori ini, memori yang pertama masuk akan terhapus oleh memori yang terekam berikutnya.
- Teori Pengolahan Informasi (Information Procecing Theory)
Teori ini menyatakan bahwa informasi mula-mula disimpan pada sensory storage (gudang inderawi), kemudian masuk Short-term Memory (memori jangka pendek), lalu dilupakan atau dikoding untuk dimasukkan ke dalam Long-term Memory (memori jangka panjang). Otak manusia dianalogikan dengan komputer.
- Short Term Memory
Short term memory mengacu kepada penjagaan informasi baru yang ada atau tersedia. Bagaimanapun, jika informasi dalam Short term Memory untuk menyediakan informasi yang segera, Short term Memori perlu untuk dibatasi. Pembatas-pembatas ini muncul dalam hal yang terlupakan atau tidak terpikirkan, kesalahan yang dibuat seseorang, dan cara dimana lebih banyak informasi yang dapat disimpan.
- Karakteristik dari Short-term Memory
- Short-term bersifat terlupakan dan harus diulang-ulang
Peristiwa-peristiwa yang terjadi keduanya selama dan berikutnya sebuah pengalaman adalah kritik yang penting pada Short-term yang terlupakan. Mempertimbangkan pengalaman klasik yang dikemukakan oleh Peterson dan Peterson. Jika subjek tidak dapat melatih item-item, mereka tidak mengingatnya untuk lebih dari sekedar masalah yang kedua.
Hal ini tidak dapat diasumsikan, bagaimanapun juga bahwa pengalaman-pengalaman dengan penggabungan tugas-tugas yang menghasilkan sesuatu yang terlupakan sebagai konsekuensi pencegahan hal-hal yang terlupakan. Dalam banyak teori tentang memori, diasumsikan bahwa Short-term Memory mempunyai kapasitas ekstrim yang kecil, terbatas untuk melihat item-item pada sebuah jangka waktu. Konsekuensinya, jika segera setelah melihat atau mendengar sesuatu untuk mengingat item-item, seseorang dihadiahi dengan penambahan item-item, item-item baru ini boleh masuk ke Short-term Memory dan akibatnya item-item yang lebih dahulu mendesak keluar dari seseorang dan berusaha untuk menahan atau menguasai. Pengulangan boleh mengambil tempat, tetapi jika item-item masih dalam Short-term Memory.
- Short-term Memory merupakan proses Coding
Untuk menemukan bagaimana informasi tentang visual direkam dan disimpan dalam Short-term Memory, kita menguji kesalahan-kesalahan yang muncul dalam pemanggilan ulang, seseorang menyukai untuk memindahkan yang dilihat pada sebuah pemeriksaan fakta-fakta dengan tanda suara seperti yang diberikan seseorang. Jika subjek tidak diucapkan, tanda-tanda muncul, pendengar bingung terhadap kesalahan-kesalahan yang tidak muncul pada waktu pemanggilan ulang. Konsekuensi pencegahan informasi pada code memory pendengar pada Short-term Memory untuk tanda-tanda dikurangi secara besar-besaran.
- Kerja Short-term Memory
Fakta-fakta untuk sebuah kerja memori datang dari berbagai sumber yang bervariasi, tetapi dapat diilustrasikan oleh sebuah studi berikut ini dimana memperlihatkan bahwa memori verbal dan memori visual untuk item-item yang bukan merupakan bagian dari sistem penyimpanan tunggal. Tugas ganda paradigma dalam kemampuan subjek untuk mengerjakan dua tugas pada waktu bersamaan digunakan sebagai indikasi luas yang mana dua tugas disebut batas kapasitas yang mirip (seperti sebuah penyimpanan jangka pendek/Short term).
Ketertarikan terbesar pada studi ini adalah penampilan pada pengenalan sederhana test jangka memori, dipresentasikan sebagai sebuah jangka verbal pada symbol atau sebuah jangka visual pada susunan sederhana 2 X 2. Dalam setiap kasus, satu symbol atau sel dirubah diantara kedua presentasi dan subjek-subjek yang dikatakan telah berubah. Tugas-tugas ini cukup mudah dan subjek-subjek dapat tampil tanpa kesalahan kecuali jika mereka menanyakan tugas kedua dalam waktu yang bersamaan.
- Long-Term Memory
Item-item memasuki sistem memori seseorang dan bertahan dari kritik mungkin bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama. Jika Long-term memory permanent, tetapi kadang-kadang juga gagal, ketika saksi mata mengingat jumlah konflik pada peristiwa yang sama.
Sebuah bagian dari jawaban untuk pertanyaan central yang terdapat kesalahan pada memori mempunyai banyak aspek. Kita perlu menjaga dalam pikiran dua tema umum. Yang pertama, orang dihadapkan dengan kompleksitas besar dalam figure penyimpanan besar pada pengetahuan yang mungkin relevan untuk beberapa situasi. Yang kedua, informasi yang mereka berikan sering tidak lengkap dan harus diperbanyak. Kemampuan untuk mengingat akan lebih efektif dengan proses yang terjadi pada waktu informasi dipelajari sebaik proses yang terjadi pada waktu informasi didapatkan kembali. Mulailah dengan contoh sederhana untuk mengingat dan mengilustrasikan proses aktif pada bahan-bahan.
Sebuah teknik yang terbukti berguna dalam analisis memori terkenal sebagai “free recall”. Dalam bentuk yang sederhana eksperimen “free recall” subjeknya dipresentasikan dengan daftar kata-kata dan diminta mereproduksi dari memori sebanyak kata-kata yang memungkinkan. Walaupun tugasnya terdengar sederhana, bahkan pemikiran yang ekstrim dan orang dewasa dapat mengingat hanya relative dalam jumlah yang kecil dari daftar secara acak.
1.2.1 Encoding dalam Long-term Memory
Ketika sebuah peristiwa terjadi mengakibatkan kemungkinan bahwa peristiwa itu akan diingat. Contoh membaca secara cepat sebuah bagian teks sambil berfikir tentang permasalahan seseorang akan membawa lebih jauh pada kesalahan memori untuk text daripada jika berkonsentrasi dan menulis sebuah ringkasan dari text setelah membacanya. Dalam bagian ini kita menganggap ada empat akibat dari encoding: tingkatan proses, memori untuk makna, pengorganisasian dan elaborasi.
Tingkatan proses atau kadang-kadang proses yang mendalam, memperdebatkan bahwa seharusnya fokus tidak hanya materi untuk dipelajari, tetapi pada bagaimana mengencoding informasi. Secara lebih jauh diargumentasikan bahwa proses yang berbeda dapat dilihat sebagai sebuah kontinum dari analisis yang mendalam pada karakteristik fisik dari item untuk tingkatan makna yang lebih mendalam. Perbedaan-perbedaan proses encoding adalah mendesak karena dapat mempunyai efek luas pada apa yang akan diingat.
Kita menganggap bahwa orang mungkin mengingat sebuah rangkaian kata-kata yang tidak berhubungan, tetapi seperti mengingat adalah kasus yang jarang dalam kenyataannya menggunakan memori. Kita sering tidak memerlukan untuk mengingat sebuah rangkaian kata-kata yang tepat, tetapi maknanya.
Sejauh ini kita telah memfokuskan pada memori untuk item tunggal atau kejadian-kejadian. Bagaimanapun sering encoding kita dan memori untuk sebuah item tergantung kritik item lain yang diberikan. Dalam fakta-fakta, jika item-item dapat diorganisasikan dalam beberapa cara, penampilan sering meningkat.
Sering ketika kita diberikan beberapa informasi kita tidak hanya mengencode maknanya, tetapi kita mengelaborasi atau menerangkannya. Sebagai contoh melihat seseorang di pintu sedang membuka payung, kita boleh membuat sebuah elaborasi sederhana bahwa orang itu melakukannya karena di luar hujan, dan mereka tidak ingin kehujanan atau basah. Elaborasi-elaborasi ini menyediakan sebuah makna dari integrasi dan penguat informasi untuk menghubungkan informasi yang sedang berlaku kepada pengetahuan kita.
1.2.2 Penghapusan Long-term Memory
Dapatkah memory terhapus? Beberapa riset membuktikan bahwa sebenarnya memori tidak dapat hilang, namun secara temporer atau permanent tidak dapat dibaca kembali. Dalam banyak kasus, informasi yang telah terlupakan dapat dimunculkan kembali lewat berbagai cara (misalnya metode hipnotis).
Hal ini dijelaskan dengan menguraikan sistem kerja saraf dalam otak manusia. Jika otak tersebut tidak rusak secara faal, maka bagian-bagian pada otak yang memuat informasi-informasi tersebut tidak akan rusak pula.
- Teori Persepsi
Persepsi adalah proses memberikan makna pada stimuli yang datang pada alat indera. Persepsi menjadi inti komunikasi, sedangkan penafsiran (interpretasi) adalah inti persepsi, yang identik dengan penyandian-balik (decoding) dalam proses komunikasi. Persepsi didefinisikan sebagai cara organisme memberi makna. Persepsi adalah proses menafsirkan informasi indrawi. Persepsi juga didefinisikan sebagai interpretasi bermakna atau sensasi sebagai representatif objek eksternal yaitu pengetahuan yang tampak mengenai apa yang ada diluar sana. Persepsi menentukan kita memilih suatu pesan dan mengabaikan pesan lainnya. Semakin tinggi derajat kesamaan persepsi antar individu, semakin mudah dan semakin sering mereka berkomunikasi, dan konsekuensinya semakin cenderung membentuk kelompok budaya atau kelompok identitas.
Beberapa pakar lain mencoba memberikan definisi tentang persepsi. Brian Fellows menyebutkan, bahwa persepsi adalah proses yang memungkinkan suatu organisme menerima dan menganalisis informasi. Kenneth A. Sereno dan Edward M. Bodaken melihat persepsi sebagai sarana yang memungkinkan kita memperoleh kesadaran akan sekeliling dan lingkungan kita. Philip Goodacre dan Jennifer Follers membahas persepsi sebagai proses mental yang digunakan untuk mengenali rangsangan. Joseph A. DeVito memberikan istilah persepsi untuk proses dengan mana kita menjadi sadar akan banyaknya stimulus yang mempengaruhi kita.
Persepsi meliputi pengindraan (sensasi) melalui alat-alat indra kita, atensi dan interpretasi, pendengaran, sentuhan, penciuman, dan pengecapan. Reseptor indrawi adalah penghubung antara otak manusia dan lingkungan sekitar. Makna pesan yang dikirimkan ke otak harus dipelajari. Semua indra mempunyai andil bagi berlangsungnya komunikasi manusia. Penglihatan menyampaikan pesan non verbal ke otak untuk diinterpretasikan.
Kenneth K. Sereno dan Edward M. Bodaken menyebutkan bahwa persepsi terdiri dari tiga aktifitas, yaitu seleksi, organisasi dan interpretasi. Seleksi mencakup sensasi dan atensi, sedangkan organisasi melekat pada interpretasi yang dapat didefinisikan sebagai “meletakan suatu rangsangan bersama rangsangan lainnya sehingga menjadi suatu keseluruhan yang bermakna”.
Kita tidak dapat menginterpretasikan makna setiap objek secara langsung, melainkan menginterpretasikan makna informasi yang dipercayai mewakili objek tersebut. Jadi pengetahuan yang kita peroleh melalui persepsi bukan pengetahuan mengenai objek yang sebenarnya, melainkan pengetahuan mengenai bagaimana tampaknya objek tersebut.
Dalam persepsi ada beberapa dalil atau proposisi dari David Krech dan Richard. Crutcfild mengemukakan dalil 4 persepsi, yaitu :
- Persepsi bersifat selektif secara fungsional. Disini ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu Need (kebutuhan), Mental Set (kesiapan mental), Mood (suasana emosional), Cultural (budaya), Language (bahasa), dan Reference (kerangka rujukan, seperti bisa pendidikan, status sosial, jenis kelamin)
- Objek persepsi selalu diorganisasikan dan diberi makna. Disini ada prinsip “Pregmanse” (manusia cenderung memberi makna walaupun informasi itu tidak lengkap)
- Sifat-sifat perseptual dan kognitif dari sub strujtur pada umumnya ditentukan oleh struktur keseluruhan.
- Objek atau peristiwa yang berdekatan dalam ruang/waktu atau saling menyerupai akan dipersepsi sebagai bagian dari struktur yang sama : prinsip similarity (kesamaan) dan prinsip proximity (kedekatan)
2.1 Persepsi terhadap Objek (Lingkungan Fisik)
Persepsi terhadap objek tercipta melalui lambang-lambang fisik. Persepsi terhadap objek menanggapi sifat-sifat luar. Berbeda dengan manusia, objek relatif tidak bereaksi. Dengan kata lain objek bersifat statis, sedangkan manusia bersifat dinamis sehingga persepsi objek dan lingkungan fisik cenderung untuk tetap.
Dalam mempersepsi lingkungan fisik. Kita terkadang melakukan kekeliruan. Indra kita terkadang menipu kita, itulah yang disebut ilusi, latar belakang pengalaman, budaya dan suasana psikologis yang berbeda juga membuat persepsi kita berbeda atas suatu objek.
2.2 Persepsi Sosial
Persepsi sosial adalah proses menangkap arti objek-objek sosial dan kejadian-kejadian yang kita alami dalam lingkungan kita. Manusia bersifat emosional, sehingga penilaian terhadap mereka mengandung resiko. Persepsi antar dua orang akan saling mempengaruhi. R.D. Laing, mengatakan bahwa manusia selalu memikirkan orang lain dan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya, dan apa yang orang lain pikirkan mengenai apa yang ia pikirkan mengenai orang lain, dan seterusnya.
Persepsi antar manusia ini diterima melalui lambang-lambang verbal dan non verbal. Persepsi terhadap orang menanggapi sifat-sifat luar dan dalam. Karena manusia bersifat reaktif dan dinamis, maka persepsi terhadap manusia dapat berubah dari waku ke waktu. Orang lebih aktif daripada kebanyakan objek dan lebih sulit diramalkan.
Keanekaragaman dan kedinamisan persepsi antar manusia dapat disebabkan oleh berbagai hal. Berikut hal-hal penting dalam persepsi sosial :
- Persepsi berdasarkan pengalaman
Pola-pola perilaku manusia berdasarkan persepsi mereka mengenai realitas (sosial). Persepsi manusia terhadap seseorang, objek atau kejadian dan reaksi mereka terhadap hal-hal itu berdasarkan pengalaman masa lalu mereka berkaitan dengan orang, objek atau kejadian serupa.
- Persepsi bersifat selektif
Setiap saat kita diberondong oleh jutaan rangsangan indrawi. Kita belajar mengatasi kerumitan ini dengan memperhatikan sedikit saja rangsangan ini. Atensi kita pada suatu rangsangan merupakan faktor utama yang menentukan selektivitas kita atas rangsangan tersebut.
- Pesepsi bersifat dugaan
Oleh karena data yang kita peroleh mengenai objek lewat pengindraan tidak pernah lengkap, persepsi merupakan loncatan langsung pada kesimpulan. Seperti proses seleksi, langkah ini dianggap perlu karena kita tidak mungkin memperoleh seperangkat rincian yang lengkap lewat kelima indera.
Proses persepsi yang bersifat dugaan itu memungkinkan kita menafsirkan suatu objek dengan makna yang lebih lengkap dari sudut pandang manapun. Oleh karena informasi yang lengkap tidak pernah tersedia, dugaan diperlukan untuk membuat suatu kesimpulan berdasarkan informasi yang tidak lengkap lewat pengindraan tersebut. Kita harus mengisi ruang yang kosong untuk melengkapi gambaran itu dan menyediakan informasi yang hilang. Dengan demikian, persepsi juga adalah suatu proses mengorganisasikan informasi yang tersedia, menempatkan rincian yang kita ketahui dalam suatu skema organisasional tertentu yang memungkinkan kita memperoleh makna yang lebih umum.
- Persepsi bersifat evaluatif
Terkadang alat-alat indra dan persepsi kita menipu kita sehingga kita ragu seberapa dekat persepsi kita dengan realitas yang sebenarnya. Tidak ada persepsi yang pernah objektif. Kita melakukan persepsi berdasarkan masa lalu dan kepentingan kita. Persepsi adalah suatu proses kognitif psikologis dalam diri kita yang mencerminkan sikap, kepercayaan, nilai dan pengharapan yang kita gunakan untuk memaknai objek persepsi.
- Persepsi bersifat konstektual
Suatu rangsangan dari luar harus diorganisasikan. Dari semua pengaruh yang ada dalam persepsi kita, konteks merupakan salah satu pengaruh paling kuat. Konteks yang melingkungi kita ketika kita melihat seseorang, suatu objek atau suatu kejadian sangat mempengaruhi struktur kognitif, pengharapan dan persepsi kita.
2.3 Kekeliruan dan Kegagalan Persepsi
Persepsi kita sering tidak cermat. Salah satu penyebabnya adalah asumsi atau pengaharapan kita. Kita mempersepsi sesuatu atau seseorang sesuai dengan pengharapan kita. Beberapa bentuk kekeliruan dan kegagalan persepsi adalah sebagai berikut :
- Kesalahan atribusi
Atribusi adalah proses internal dalam diri kita untukmemahami penyebab perilaku orang lain. Dalam usaha mengetahui perilaku oprang lain, kita menggunakan beberapa sumber informasi. Misalnya mengamati penampilan fisik mereka, karena faktor-faktor seperti usia, gaya pakaian dan daya tarik dapat memberikan isyarat mengenai sifat-sifat utama mereka.
- Efek halo
Kesalahan persepsi yang disebut efek halo merujuk pada fakta bahwa begitu kita membentuk suatu kesan menyeluruh mengenai seseorang, kesan yang menyeluruh ini cenderung menimbulkan efek yang kuat atas penilaian kita akan sifat-sifatnya yang spesifik.
- Stereotif
Kesulitan komunikasi akan muncul dari penstereotipan (Stereotyping), yakni menggeneralisasikan orang-orang berdasarkan sedikit informasi dan membentuk asumsi mengenai mereka berdasarkan keanggotaan mereka dalam suatu kelompok. Penstereotipan adalah penempatan orang-orang dan objek-objek berdasarkan kategori-kategori yang dianggap sesuai berdasarkan karakteristik individual mereka.
- Prasangka
Suatu kekeliruan persepsi terhadap orang yang berbeda adalah prasangka, suatu konsep yang sangat dekat dengan stereotip. Beberapa pakar cenderung menganggap bahwa stereotip itu identik dengan prasangka. Dapat dikatakan bahwa stereotip merupakan komponen kognitif (kepercayaan) dari prasangka, sedangkan prasangka juga berdimensi perilaku. Jadi prasangka ini konsekuensi dari stereotip dan lebih teramati daripada stereotip.
- Gegar budaya
Menurut Kalvero Oberg, gegar budaya ditimbulkan oleh kecemasan karena hilangnya tanda-tanda yang sudah dikenal dan simbol-simbol hubungan sosial. Lundstedt mengatakan bahwa gegar budaya adalah suatu bentuk ketidakmampuan menyesuaikan diri yang merupakan suatu reaksi terhadap upaya sementara yang gagal untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan orang-orang baru. Sedangkan menurut P. Harris dan R. Moran, gegar budaya adalah suatu trauma umum yang dialami seseorang dalam suatu budaya yang baru dan berbeda karena harus belajar dan mengatasi begitu banyak nilai budaya dan pengharapan budaya lama tidak lagi sesuai.
KEYAKINAN, NILAI, SIKAP DAN OPINI
“Jangan takut menghadapi suatu kegagalan karena dengan kegagalan itu kita juga akan memperoleh pengetahuan tentang segi kelemahan atau kekuatan diri kita”.
Anda mempunyai sarang lebah. Dan apa yang akan terjadi dengan Anda sangat tergantung dari ideologi yang berlaku. Feudalisme : Anda punya sarang lebah dan penguasa akan mengambil sebagian madunya Sosialisme : Pemerintah akan mengambil sarang lebah Anda, meletakkannya bersam-sama dengan sarang lebah milik orang lain. Anda diharuskan memelihara sarang lebah tersebut dan pemerintah akan memberi Anda madu sesuai kebutuhan. Komunisme : Anda punya sarang lebah. Semua tetangga ikut memeliharanya dan madu yang dihasilkan dibagi rata. Diktatorian : Anda punya sarang lebah. Pemerintah mengambil keduanya dan membunuh Anda. Militerianisme : Pemerintah mengambil sarang lebah Anda dan memanggil Anda untuk mengikuti wajib militer. Demokrasi : Pemerintah menjanjikan akan memberi sarang lebah jika Anda memilih kembali partainya. Ketika pemilu selesai, presiden terpilih dituduh terlibat ‘politik lebah’ dan media menyebutnya lebahgate. Kapitalisme : Anda punya sarang lebah Anda jual separoh dan hasilnya dibelikan sarang lebah lagi. Environmentalisme : Anda mempunyai sarang lebah. Pemerintah melarang Anda mengambil madunya ataupun membunuh mereka.
Bahwa memang sewajarnya manusia berbeda pandangan mengenai satu hal yang sama. Sebuah joke yang beredar dikalangan pengguna internet diatas seperti menyindir, bahwa kita sering bertikai untuk sebuah perbedaan yang memang sudah sewajarnya berbeda.
Psikologi Komunikasi memetakan tentang apa yang mendasari manusia dalam memahami konteks dalam 4 bahasan : keyakinan (belief), nilai (value), sikap (attitude), dan opini (opinion). Keyakinan dan nilai bersifat esoteris (batiniah), sedangkan nilai dan opini bersifat eksoteris (lahiriah). Keyakinan dipahami sbagai sesuatu yang mengikat orientasi hidup seseorang, baik itu given maupun hasil pencarian, sedangkan nilai-nilai adalah perangkat untuk mengikat orang dengan keyakinan itu. Biasanya keyakinan bersifat universal dan tetap. Sikap adalah interpretasi keyakinan dan nilai terhadap konteks yang ada, baik peristiwa maupun lingkungan, sedangkan opini adalah penilaian-penilaian terhadap konteks sebagai perwujudan sikap. Sikap dan opini bersifat temporal dan kontekstual.
Sering, orang dengan keyakinan dan nilai-nilai yang dianut sama, namun mempunyai sikap dan opini berbeda. Hal ini terjadi karena perbedaan dalam melihat konteks. Contoh yang sangat baik misalnya lahirnya gerakan Modern-Reformis Islam yang dipelopori oleh Kaum Wahhabi di Saudi Arabia (1700-an), sebagai antitesis dari tradisi islam yang berkembang kala itu. Waktu itu, akhir Abad Pertengahan, peradaban islam mengalami kemunduran dimana-mana. Orang cenderung “lari dari dunia”, asyik dalam ritual-ritual sufistik dan tradisi-tradisi yang dikembangkan oleh para ulama terdahulu, dan begitu menghargainya dengan mengagungkan makam mereka.
Kaum reformis-modern melihat pengagungan terhadap ulama yang telah meninggal sebagai khurafat, yang menjurus kepada syirik. Tradisi islam yang begitu ketat menyebabkan manusia begitu terpuruk, sehingga mengesampingkan ajaran-ajaran inti islam : Qur’an dan Hadist. Maka semboyan kaum Modern-Reformis adalah “Kembali kepada Qur’an dan Sunnah”, dan “Membuka kembali Pintu Ijtihad”. Di Indonesia, organisasi yang menganut faham ini adalah Muhammadiyah.
Gerakan ini mendapat tantangan dari kalangan non Modernis-Reformis, yang tetap mempertahankan tradisi. Kaum tradisionalis menganggap bahwa warisan dan tradisi para ulama terdahulu telah teruji sejarah karena mereka telah melewati perjalanan spiritual yang matang. Hikmah yang diajarkan para wali juga telah teruji secara sejarah. Mereka menganggap ajaran akan menjadi dangkal jika dikaji tanpa melalui apa yang telah dijalankan para ulama terdahulu. Di Indonesia kalangan tradisionalis tergabung di dalam Nahdlatul Ulama.
Maka kemudian terlihat, bahwa perbedaan-perbedaan pendapat yang terjadi antara kalangan Modernis dan Tradisionalis adalah perbedaan dalam melihat permasalahan yang terjadi, bukan dalam masalah keyakinan atau nilai. Dan perbedaan ini terus terbawa hingga masa reformis kini.
- Keyakinan (Belief)
Keyakinan adalah anggapan subjektif tentang suatu onjek atau peristiwa yang mempunyai ciri atau nilai tertentu, dengan atau tanpa bukti.[3] Belief atau keyakinan menggambarkan hubungan dua kategori kognitif tatkala yang satu membatasi yang lain. Pada umumnya dipahami berkaitan dengan ciri-ciri suatu objek.
Dalam teori perilaku terencana keyakinan-keyakinan (belief) berpengaruh pada sikap terhadap perilaku tertentu, pada norma-norma subjektif, dan pada kontrol perilaku yang dihayati. Ketiga komponen ini berinteraksi dan menjadi determine bagi intensi yang pada gilirannya akan menentukan apakah perilaku yang bersangkutan akan dilakukan atau tidak.
Keyakinan mempengaruhi sikap terhadap sesuatu yang akan membawa kepada hasil yang diinginkan atau tidak diinginkan. Keyakinan mengenai perilaku apa yang bersifat normatif (yang diharapkan oleh orang lain) dan motivasi untuk bertindak sesuai dengan harapan normatif tersebut membentuk norma subjektif dalam diri individu. Kontrol perilaku ditentukan oleh pengalaman masa lalu dan perkiraan individu mengenai seberapa sulit atau mudahnya untuk melakukan perilaku yang bersangkutan. Kontrol perilaku ini sangat penting artinya ketika rasa percaya diri seseorang sedang berada dalam kondisi yang lemah.
Menurut teori perilaku terencana, diantara berbagai keyakinan yang akhirnya akan menentukan intensi dan perilaku tertentu adalah keyakinan mengenai tersedia tidaknya kesempatan dan sumber pengalaman dengan perilaku yang bersangkutan di masa lalu dapat juga dipengaruhi oleh informasi tak langsung mengenai perilaku itu misalkan dengan melihat pengalaman teman atau orang lain yang pernah melakukannya, dan dapat juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang mengurangi atau menambah kesan kesukaran untuk melakukan perbuatan yang bersangkutan.
- Nilai (Value)
Nilai adalah kerangka acuan yang diterapkan seseorang untuk menilai kebaikan suatu objek situasi dan perilaku. Pada umumnya menyatakan hubungan antara perasaan emosional seseorang dengan kategori kognitif tertentu.
Nilai bersifat mendasar dan stabil sebagai bagian dari ciri kepribadian, sikap bersifat evaluatif dan berakar pada nilai yang dianut dan terbentuk dalam kaitannya dengan suatu objek.[4] Nilai berakar lebih dalam karenanya lebih stabil dibandingkan sikap individu. Lebih daripada itu, nilai dianggap sebagai bagian dari kepribadian individu yang dapat mewarnai kepribadian kelompok atau kepribadian bangsa. Orang Indonesia menghargai dan menganut nilai perdamaian, artinya cinta damai dianggap sebagai bagian dari kepribadian orang Indonesia. dalam konteksnya yang relevan, pada gilirannya nilai cinta damai itu akan menjadi dasar pembentukan sikap manusia Indonesia sebagai individu terhadap suatu permasalahan, sehingga bangsa Indonesia cenderung menghindari konflik. Namun demikian, dalam situasi tertentu seorang Indonesia mungkin membentuk sikap yang tidak menguntungkan terhadap perdamaian karena misalnya saja perdamaian itu harus dicapai dengan mengorbankan harga diri.
Nilai adalah komponen evaluatif dari kepercayaan kita, mencakup kegunaan, kebaikan, estetika dan kepuasan. Jadi nilai bersifat normatif, memberitahu suatu anggota budaya mengenai apa yang baik dan buruk, benar dan salah, siapa yang harus dibela, apa yang harus diperjuangkan, apa yang mesti kita takuti dan sebagainya. Nilai biasanya bersumber dari isu filosofis yang lebih besar yang merupakan bagian dari lingkungan budaya, karena itu nilai bersifat stabil dan sulit berubah.[5]
- Sikap (Attitude)
Sikap adalah akibat penggabungan antara keyakinan dengan nilai yang relevan yang dapat berubah dengan jalan mengubah keyakinan dan nilai yang mendasarinya.
Sikap ditafsirkan dari bentuk perilaku yang tampak. Untuk mengetahui sikap seseorang terhadap sesuatu kita dapat memperhatikan perilakunya, sebab perilaku merupakan salah satu indikator sikap individu. Kalau seseorang menampakkan perilaku yang konsisten (berulang), misalnya tidak pernah mau memakai baju dengan warna merah, maka jika berkesimpulan dia tidak menyukai warna merah.
- Opini (Opinion)
Opini adalah jawaban-jawaban verbal yang diberikan seseorang terhadap rangsangan situasi ketika beberapa pernyataan diajukan kepadanya. Rokeach berpendapat bahwa suatu opini didefinisikan sebagai pernyataan verbal mengenai beberapa keyakinan, sikap atau nilai. Berbeda dengan nilai, opini merupakan sikap yang lebih spesifik dan sangat situasional serta lebih mudah berubah.
Opini merupakan pernyataan sikap yang sangat spesifik atau sikap dalam artian yang lebih sempit. Opini terbentuk didasari oleh sikap yang sudah mapan akan tetapi opini lebih bersifat situasional dan temporer. Sebagai contoh, seseorang yang mempunyai sikap yang negatif (tidak setuju) terhadap aborsi apabila menghadapi kasus pilihan darurat antara menyelamatkan nyawa sang ibu atau menyelamatkan bayi dalam kandungan ibu tersebut, dapat saja ketika itu berpendapat bahwa aborsi boleh dilakukan. Opini atau pendapat dalam situasi seperti itu tidak mengubah sikapnya mengenai aborsi karena opini bersifat situasional dan lebih mudah berubah sesuai dengan kondisinya.[6]
[1] Jalaluddin Rakhmat, 1992, Op.cit., hlm 19.
[2] Djamaludin Ancok dan Fuat Nashori Suroso. Psikologi Islami: Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1994. hlm 152-162
[3] Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2000.hlm 196
[4] Saifuddin Azwar, Op.cit., hlm. 9
[5] Deddy Mulyana, Op.cit., hlm. 196-197
[6] Saifuddin Azwar, Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1995, hlm. 9
